News

Mengupas Album DANDELION Monita Tahalea, Wishlist Performer Jazz Gunung 2017

Dandelion, bunga liar berwarna putih seperti gumpalan kapas yang hidup berkoloni. Jika tertiup angin, benihnya yang kecil dan ringan akan terbang meninggalkan sang bunga. Di manapun benihnya jatuh dan mengering, di sanalah bunga Dandelion akan tumbuh. Selama kehidupannya, bunga Dandelion akan terus menghasilkan benih-benih yang akan diterbangkan angin dan menghasilkan bunga-bunga baru. Seperti harapan. 

Filosofi tentang bunga Dandelion inilah yang menjadi inspirasi judul album ke-dua milik penyanyi jazz Indonesia, Monita Tahalea. Album yang rilis tanggal 1 Desember 2015 lalu ini berisikan sembilan lagu yang didistribusikan oleh label Demajors. Dandelion rampung diproduksi berselang lima tahun sejak album pertama (Dream, Hope, & Faith) milik penyanyi jebolan Indonesian Idol ini dirilis di tahun 2010 lalu. Penantian lima tahun berbuah manis dengan kehadiran album Dandelion yang menawan. Lagu andalan berjudul “Memulai Kembali” ini merupakan easy listening song. 

Materi yang ditawarkan album yang diproduseri Monita dan Gerald Situmorang ini tidak jauh berbeda dengan album terdahulu, lagu-lagu bertema cinta yang dibalut musik pop dan jazz. Namun tema yang disajikan tidak melulu tentang cinta sepasang kekasih, beberapa lagu menceritakan tentang persahabatan, kehidupan, dan harapan. 

Lagu berjudul “Hai” yang bernuansa riang menjadi pembuka album yang sebagian besar direkam di SAE Studio ini. Liriknya dapat menjadi penyemangat hidup bagi sahabat yang sedang terluka. “Hai teman, apa kabar? Lama tak ku dengar suaramu. Apa harimu bermentari? Adakah malam dihiasi mimpi? Hai teman, hapus sudah senyum kelabu di wajahmu. Masa yang lalu telah berlalu. Kini hari baru bernyanyi untukmu.” 

Memulai Kembali menjadi track kedua di album Dandelion, namun ternyata versi album Dandelion memiliki aransemen yang jauh lebih kompleks. Mendengarkan paduan irama dan harmoni aransemennya saja sudah membuat kecanduan. 

Jika sebelumnya berekspektasi bahwa album ini akan menjadi album yang “manis”, maka lagu ke lima berjudul “Bisu” mematahkan ekspektasi tersebut. Lagu ini merupakan salah satu lagu up-beat dengan lirik yang powerful. “Diam seribu bahasa. Simpan sejuta makna. Kini ku rangkai kata. Coba sampaikan rasa. Oh bebaskanlah oh lepaskanlah. (Apa yang kau pikirkan) apa yang kau pikirkan. (Namun tak diucapkan) namun tak diucapkan. (Apa yang kau rasakan) apa yang kau rasakan. (Namun tak diucapkan) namun tak diucapkan”. 

Track ke-enam diisi oleh sebuah ballad berjudul “Saat Teduh”, satu diantara dua lagu dengan aransemen paling minimalis di album Dandelion. Walaupun menghanyutkan, tetap enak dinikmati. Setelahnya, lagu berbahasa Inggris berjudul I’ll Be Fine mengisi track ke-tujuh di album ini. Seperti “Bisu”, I’ll Be Fine bertempo cepat dengan tema move-on. “Today another day has gone. And I’m still here all alone stuck with the pieces of yesterday. Yesterday wasn’t enough. Sometimes life can be so tough . With all your love one hurting you. What about faith doesn’t it conquer? And you find the strength within you to go on”. 

Album Dandelion ditutup oleh lagu berjudul Breathe. Meskipun berjudul Bahasa Inggris, lirik lagu ini ditulis dalam Bahasa Indonesia. Meskipun terkesan seperti lagu cinta biasa, namun lagu ini dapat diartikan sebagai lagu spiritual yang menceritakan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Secara keseluruhan, album ini terasa positif, powerful, namun hangat dan feminin. Beberapa lagu cocok didengarkan saat teduh menuju senja, lagu-lagu lain dapat didengarkan saat berbagai macam pikiran hinggap di kepala dan bisa juga ketika mengalami jatuh cinta.

BLOG COMMENTS POWERED BY DISQUS